Sebagai guru tentu kita wajib untuk merasa gundah dengan apa yang telah kita lakukan kepada anak-anak didik kita. Apakah kasih saying kita telah kita ungkapkan dengan sepenuh hati, dengan cara membimbing mereka mempersipakan esok yang lebih baik? Apakah kita hanya mengajari mereka karena kewajiban pekerjaan saja? Apakah apa yang kita berikan kepada mereka cukup untuk mempersiapkan masa depan dengan tantangan yang lebih berat?
Kalau sebagai guru “saja” begitu banyak kegundahan, apalagi kita yang kebetulan sebagai pimpinan. Tentu ada lebih banyak pertanyaan yang seharusnya menjadi fokus perhatian kita. Sudahkah kita mengungkapkan kasih sayang kita sebagai pimpinan kepada bawahan (dalam bentuk perhatian, motivasi , kepedualian, empati ) sehingga dapat membahagiakan mereka? Sudahkah kita mengungkapkan cinta kita dalam bentuk rasa tanggung jawab atas karir dan kenyamanan mereka dalam bekerja? Apakah sebagai pimpinan kita sudah dapat memberikan jaminan tentang masa depan yang lebih baik? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang setiap menit, setiap detik mengingatkan kita, mengusik kenyamanan kita ketika sedang duduki dikursi yang empuk di “kantor.”
Anda bayangkan bahwa kalau ternyata esok tidak pernah datang lagi kepada Anda, betapa menyesalnya Anda yang belum secara sungguh-sungguh berbuat sesuai dengan kemampuan dan kapasitas Anda. Betapa menyesalnya seorang guru bila mendapati anak didiknya setelah tumbuh dewasa tidak menjadi sosok yang diharapkan. Terlebih betapa menyesalnya seorang pimpinan yang sebenarnya dengan kekuasaan, kekuatan, dan kewenangan yang dimiliki belum sempat berbuat yang semestinya untuk kebaikan bawahan. Lakukanlah sekarang, karena mungkin esok tidak pernah datang lagi. Lakukanlah sekarang, mungkin besok Anda sudah tidak menjadi pimpinan lagi.
Sumber: http://guruypk.blogspot.com/2008/11/if-tomorrow-never-comes.html

Name Hariadi Yutanto